/data/photo/2021/07/18/60f37cb55a922.png)
KOMPAS.com - Di akhir pekan kemarin, 16-17 Juli 2021, ulasan terkait Covid-19 adalah yang paling banyak dibaca.
Mulai penjelasan dari apakah kita perlu tes swab ulang setelah isolasi mandiri dinyatakan selesai.
Kemudian ada 200 gejala Long Covid, yang salah satunya adalah penurunan ukuran penis.
Obat yang harus dihindari saat isoman di rumah hingga dua obat yang tak lagi direkomendasikan untuk perawatan Covid-19.
Baca juga: [POPULER SAINS] 14 Kerabat Leonardo da Vinci Masih Hidup | Vaksin Pfizer Kantongi izin BPOM
Berikut ulasannya:
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email
1. Tidak perlu tes swab lagi usai isoman
Menurut Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc SpP(K), dokter spesialis paru dari Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dari Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), pasien Covid-19 tanpa gejala atau bergejala ringan tidak perlu melakukan tes swab PCR setelah isolasi mandiri.
“Pemeriksaan PCR di akhir isoman tidak perlu dilakukan kalau Anda tanpa gejala atau gejala ringan,” jelasnya. Erlina menegaskan, yang terpenting adalah pasien Covid-19 harus melaksanakan isolasi mandiri hingga selesai, yakni selama 10 hingga 14 hari.
Selama masa tersebut, pasien Covid-19 dilarang keluar rumah dan tidak melakukan kontak erat dengan siapapun.
Hal ini pun disampaikan oleh Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19, Brigjen TNI (Purn) Alexander Ginting dalam wawancara terpisah.
Namun Alex menambahkan, jika setelah selesai isolasi mandiri masih bergejala, pasien Covid-19 bisa melakukan pemeriksaan rapid test antigen.
"Bila masih bergejala, rapid test antigen," kata Alex saat dihubungi Kompas.com, Senin (12/7/2021).
Ia mengingatkan, pasien perlu menjalani pemeriksaan PCR jika gejala tidak hilang dan mengalami perburukan. Selanjutnya, bisa melakukan konsultasi dengan dokter secara online.
Selengkapnya baca di sini:
Selesai Isolasi Mandiri, Apakah Perlu Tes Swab PCR Lagi?
2. Salah satu gejala Long Covid, penis mengecil
Menurut peneliti, ada sekitar 200 gejala yang bisa muncul saat mengalami long Covid, seperti halusinasi hingga penurunan ukuran penis atau testis yang telah diidentifikasi sebagai gejala panjang atau long Covid.
Melansir The Independent, sebuah studi baru oleh tim peneliti di University College London (UCL), yang mana semua penelitinya pernah mengalami positif Covid-19 dan long covid, menunjukkan bahwa long covid dapat menyebabkan lebih banyak gejala, daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Salah satu gejala long Covid yang diidentifikasi dalam studi baru University College London adalah di bagian reproduksi.
Disebutkan, peserta mengaku mengalami menstruasi yang sangat berat atau tidak teratur, penurunan ukuran penis atau testis, menopause dini, perdarahan pascamenopause usai terinfeksi Covid-19.
Ada 17 gejala lain yang paling banyak dirasakan, selengkapnya baca di sini:
Peneliti Identifikasi 200 Gejala Long Covid, Salah Satunya Penurunan Ukuran Penis
3. Obat yang harus dihindari pasien isoman
Saat ini, pasien Covid-19 tanpa gejala ataupun bergejala ringan harus melakukan isolasi mandiri di rumah saja.
Namun, ada beberapa obat yang harus dihindari dan tidak disarankan untuk dikonsumsi.
Hal ini dikarenakan, pasien tanpa gejala dan bergejala ringan bisa disembuhkan utamanya dengan meningkatkan imunitas atau sistem kekebalan tubuh.
Oleh karena itu, mereka biasanya diharuskan untuk mengonsumsi makan-makanan bernutrisi secara cukup dan seimbang.
Konsumsi tambahan bagi pasien isolasi mandiri adalah ragam multivitamin seperti vitamin C, vitamin D, vitamin B, dan Zinc.
Tidak hanya itu, istirahat yang cukup, rajin berjemur, mengelola stres dan emosi diri, serta mengonsumsi obat-obatan yang diresepkan oleh dokter penanggung jawab atau petugas dari fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) terdekat menjadi modal penting untuk segera pulih dari penyakit Covid-19 ini.
Obat apa saja yang harus dihindari saat isoman? Selengkapnya baca di sini:
Obat yang Harus Dihindari Pasien Covid-19 saat Isolasi Mandiri di Rumah
4. Oseltamivir dan Azithromycin tidak lagi direkomendasikan untuk pasien Covid-19
Oseltamivir dan Azithromycin adalah dua obat yang selama ini digunakan untuk terapi pasien Covid-19, sejak awal pandemi virus corona ini muncul dan kini.
Kini, aturan standar perawatan Covid-19 yang mencantumkan obat ini telah direvisi. Dalam Revisi Protokol Tata Laksana Covid-19, lima organisasi profesi kedokteran tak lagi memasukkan obat ini dalam standar perawatan pasien Covid-19.
Di antaranya terdiri dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Ketua PAPDI DR. Dr. Sally Aman Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP, yang juga turut serta dalam penyusunan Revisi Protokol Tata Laksana Covid-19 mengatakan kedua obat ini, sebenarnya masih dipergunakan, hanya saja dimasukkan sebagai terapi tambahan.
Selengkapnya baca di sini:
Direvisi, Oseltamivir dan Azithromycin Tak Lagi Standar Perawatan Covid-19
POPULER SAINS: Tidak Perlu Tes Swab Usai Isoman | Salah Satu Gejala Long Covid, Penis Mengecil - Kompas.com - KOMPAS.com
Read More
No comments:
Post a Comment