/data/photo/2021/07/03/60e02a52e8969.jpg)
KOMPAS.com - Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Rumah sakit penuh, pasien Covid-19 semakin banyak, dan korban meninggal berguguran.
Salah satu terapi Covid-19 yang saat ini menjadi andalan adalah terapi plasma konvalesen. Meski belum ada satu pun terapi yang benar-benar menyembuhkan pasien terinfesi, tapi ada beberapa pilihan terapi yang sudah disusuh perhimpunan dokter Indonesia.
Pilihan terapi lain selain plasma konvalesen menjadi salah satu berita terpopuler Sains Kompas.com di akhir pekan, 2-3 Juli 2021.
Selain terapi Covid-19, kita pun harus sadar dan mengenali varian Delta. Ini adalah varian yang disebut WHO paling mengkhawatirkan di dunia karena penularannya sangat cepat.
Layanan tes PCR yang tutup karena kelebihan kapasitas menjadi perhatian lain, hingga apa saja efek samping vaksin Moderna yang akan dipakai di Indonesia.
Baca juga: [POPULER SAINS] Perlukah Tes Antibodi Usai Vaksin? | Syarat Vaksin Covid-19 untuk Anak
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email
Berikut rangkumannya:
1. Terapi selain plasma konvalesen
Saat ini belum ada satu pun terapi definitif yang benar-benar menyembuhkan pasien yang terinfeksi Covid-19. Para peneliti dan tim medis melakukan berbagai pendekatan perawatan yang berbeda. Beberapa pilihan terapi Covid-19 tertuang di dalam Pedoman Tatalaksana Covid-19 yang disusun oleh beberapa perhimpunan dokter di Indonesia, yakni:
- Anti IL-6 (Tocilizumab)
- Anti IL-2 (Anakinra)
- Antibiotik
- Sel punca mesenkimal
- Intravenous immunoglobulin (IVIG)
- N-Asetilsistein
Penyusun pedoman ini adalah Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (Papdi), Perhimpupan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (Perdatin), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Baca penjelasan selengkapnya di sini:
Tidak Hanya Plasma Konvalesen, Ini Pilihan Terapi Covid-19
2. Cara varian delta menular dengan cepat
Varian Delta merupakan salah satu varian baru virus corona yang tengah mewabah di sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Memiliki kemampuan transmisi atau penularan yang sangat tinggi, varian ini lebih mudah menular dibandingkan varian lainnya.
Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc SpP(K), dokter spesialis paru dari Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dari Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mengatakan bahwa Delta juga bisa mengelabui sistem imun tubuh.
“Jadi, kalau ada virus masuk, biasanya otomatis sistem imun kita akan bereaksi melakukan perlawanan. Nah, virus (varian Delta) ini mengelabui sistem imun kita dan seseorang itu akan menjadi sakit,” jelas Erlina dalam webinar bertajuk “Isolasi Mandiri Pasien Covid”, Jumat, (2/7/2021).
Delta telah dikaitkan dengan penularan di rumah tangga yang diperkirakan 60 persen lebih tinggi dibandingkan penularan varian lain.
“Karena saking banyaknya yang terjangkit, akhirnya banyak juga yang memerlukan perawatan di rumah sakit,” katanya.
Baca selengkapnya di sini:
Ahli Ungkap Cara Varian Delta Menular dengan Cepat
3. Dampak layanan tes PCR tutup
Sejumlah tempat layanan tes PCR (polymerase chain reaction) dilaporkan tutup sementara, karena banyaknya jumlah sampel swab yang melebihi kapasitas.
Di tengah lonjakan kasus Covid-19 yang terus membuat rumah sakit dibanjiri pasien, apa dampak dengan tutupnya layanan tes PCR ini?
"Case finding (penemuan kasus Covid-19) melalui T&T (testing and tracing), seharusnya tidak boleh digantikan dengan oleh upaya lain, apalagi dihentikan," kata Epidemiolog Universitas Airlangga Windhu Purnomo saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (3/7/2021).
Windhu mengatakan selama penemuan kasus Covid-19 masih rendah, maka penularan akan terjadi di bawah permukaan.
Baca penjelasan selengkapnya di sini:
Layanan Tes PCR Tutup karena Kelebihan Kapasitas, Apa Dampaknya?
4. Efek samping vaksin Moderna yang akan dipakai di Indonesia
Vaksin Moderna telah mendapat izin penggunaan darurat dan segera digunakan dalam program vaksinasi Covid-19 di Indonesia. Namun, apa saja efek samping vaksin Moderna yang selama ini dilaporkan?
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah memberi lampu hijau penggunaan darurat vaksin Covid-19 berbasis mRNA ini.
Kepala BPOM Penny Lukito telah mengumumkan penerbitan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) vaksin Covid-19 Moderna pada Jumat (2/7/2021).
Dalam konferensi pers virtual, Penny mengungkapkan data hasil uji klinis fase 3 menunjukkan efikasi vaksin Moderna mencapai 94,1 persen pada kelompok usia 18-65 tahun, dan 86,4 persen pada kelompok usia di atas 65 persen.
Berdasarkan lembar fakta badan pengawas obat dan makanan Amerika Serikat (FDA), efek samping vaksin Covid-19 berbasis mRNA ini pada dasarnya sangat umum.
Beberapa efek samping vaksin Moderna dalam data uji klinis fase 3, seperti dilansir dari Medical News Today, antara lain sebagai berikut:
- Kelelahan (70 persen)
- Sakit kepala (64,7 persen)
- Nyeri otot (61,5 persen)
- Nyeri sendi (46,4 persen)
- Kedinginan (45,4 persen)
- Mual dan muntah (23 persen)
- Demam (15,5 persen)
Sementara itu, dalam uji klinis menemukan bahwa efek samping vaksin Moderna lebih sering dilaporkan setelah vaksinasi Covid-19 dosis kedua dan berlangsung sekitar 2-3 hari.
Selengkapnya baca di sini:
Apa Saja Efek Samping Vaksin Moderna yang Segera Digunakan di Indonesia?
[POPULER SAINS] Terapi Covid-19 Selain Plasma Konvalesen | Cara Varian Delta Menyebar dengan Cepat - Kompas.com - KOMPAS.com
Read More
No comments:
Post a Comment